Agustyar

Sabtu, 23 Januari 2021

Memelihara kewarasan di tengah pandemi
Saya tidak tau sampai kapan stress berkepanjangan akibat pandemi ini. Setiap hari berada di dalam rumah selain untuk melindungi diri dan memang tidak ada yang bisa dilakukan. Urusan study juga jadi masalah yang tidak kunjung menemui titik terang. Lama-lama bisa enggak waras kalau setiap hari hanya melakukan pengulangan membosankan ini. 

Saya tentu sadar, kondisi seperti ini bukanlah hal yang cepat dan akan mudah berlalu. Semuanya berubah, kebiasaan, cara berfikir, cara berkomunikasi, dan banyak hal lainnya.

Hari itu teman saya mengajak untuk pergi ke sebuah tempat wisata yang menurut saya itu adalah tempat wisata nomor 1 di daerah saya. Tentunya kita pergi dengan proteksi diri dan ketaatan protokol kesehatan. Enggak lucu kalau niat membuat diri lebih sehat dan waras, namun pulang membawa penyakit. Masker, hand sanitizer, dan rambu-rambu jaga jarak yang sudah kita tanamkan adalah hal wajib. 

Kaligua, sebuah tempat yang teakhir kali saya datangi pada 2014 ini telah mengalami banyak perubahan yang signifikan. Sepertinya pemerintah daerah sudah cukup sadar akan potensi wisata yang besar dari luasnya kebuh teh dan goa jepang yang menjadi andalan tempat wisata ini. 

Kami sengaja berangkat sepagi mungkin dengan harapan akan bisa mendapat udara tersegar dari tempat ini, dan juga keadaan yang belum terlalu ramai. Perjalanan cukup berat karena harus melalui jalan menanjak yang cukup jauh, ditambah beberapa kerikil di jalan yang membuat seorang ibu-ibu N-Max jatuh di depan kita. Untungnya banyak orang yang langsung menolong dan dia tidak terlihat terluka, hanya bagian depan motornya yang terlihat sedikit lecet.

Di pintu  masuk kami diminta untuk mencuci tangan pada tempat cuci tangan yang sudah disediakan. Betapa dinginnya air di tempat ini, perbedaan suhu tubuh dan suhu udara membuat saya merasakan thermal shock yang membuat kulit tangan mati rasa. 

Setelah itu, petugas penjaga memeriksa suhu tubuh kami satu persatu. 
"35,2°C mas" ucap petugas setelah menodongkan alat pengukur suhu tubuh yang menandakan bahwa saya aman untuk masuk ke dalam tempat wisata ini.

Harga tiket masuk Rp. 20.000 dan karacis parkir Rp. 2000 merupakan biaya yang cukup terjangkau menurut saya. Dengan mengeluarkan biaya tersebut, saya sudah bisa merasakan segarnya udara perkebunan teh yang hijau dan luas. Sekalipun saya menggunakan masker, saya bisa menghirup udara segar tersebut dengan enteng. 

foto di tengah-tengah kebuh teh

Oksigen dengan sangat mudah memasuki hidup, kemudia ke paru-paru dan diangkut oleh darah untuk mengalir keseluruh tubuh. Termasuk otak saya yang kini menjadi terasa lebih enteng dengan segala fikiran stress yang saya bawa dari rumah.

Kami berjalan menyusuri perkebunan teh, masuk kebawah goa jepang, mengambil beberapa foto dan kemudian ISOMA (Istitahat Sholat makan). Sungguh seperti rundown acara yang telah ditentukan secara default oleh seksi acara kepanitiaan di sekolah. 

Foto bareng nakama-nakama



Pulangnya kami sempatkan untuk mampur kesebuah danau yang ditinggali jutaan ikan di dalamnya. Telaga Ranjeng kami menyebutnya, sebuah cagar alam yang benar-benar dijaga dan menjadi salah satu daya tarik ketika kita pergi ke Kaligua. Memberi makan ikan di pinggiran telaga Ranjeng dengan roti kami beli memberikan rasa ketenangan tersendiri. 

Ngasih makan ikan di Telaga Ranjeng

Habisnya roti yang kami beli dari abang-abang penjual roti ditepi danau menandakan bahwa agenda kami di sini telah berakhir. Kami pulang dengan perasaan yang lebih baik, otak yang lebih waras serta isi paru-paru yang telah dibersihkan oleh udara kebun teh Kaligua. 



Rabu, 20 Januari 2021

Enggak perlu ikutan trend, siapin dulu hal ini sebelum kamu mulai investasi saham


Era pandemi covid-19 belum berakhir, begitupula dampak yang ditimbulkan dari pandemi ini. Kebiasaan manusia sedikit demi sedikit mulai berubah. Mulai dari cara berinteraksi, berkomunikasi, melakukan kegiatan jual-beli, hingga cara mengelola keuangan. Salah satu hal yang lagi nge-trend akhir-akhir ini adalah “saham”. Anak muda mulai berfikir untuk mulai berinvestasi ke instrumen tersebut. Sebagian besar memulai trend tersebut karena melihat idola/influencer panutan mereka membagikan pengalaman mendapat “cuan” dari saham. Tentu saja memulai berinvestasi atas landasan melihat orang lain mendapatkan cuan bukanlah hal yang bijak. Termasuk jatuh kedalam pusaran trend main saham karena ikut-ikutan. 

Gak usah buru-buru
Menurut saya, investsi saham itu bukanlah sesuatu yang harus kamu mulai secepat mungkin. Ada beberapa hal yang perlu kamu persiapkan sebelum mulai terjun kedunia persahaman. Tentu saja saya bukanlah orang yang expert di bidang ini, tapi saya beruntung bisa memulai dengan bimbingan teman dan referensi yang tepat sebelum benar-benar yakin untuk berinvestasi di saham. Bahkan saya butuh 6 bulan untuk belajar dan meyakinkan diri sendiri untuk berinvestasi saham. Saya orang yang cukup skeptis dan tidak terlalu mudah menaruh uang ke instrumen investasi. 

Ubah dulu tuh mindset mu tentang “main saham” jadi “investasi saham”
Pada dasarnya, sesuatu yang diniati dengan main-main akan berakhir dengan anda yang dipermainkan. Istilah main saham itu menurut saya dan sebagian orang seperti membeli sebuah saham atas dasar trend, keberuntungan, dan gambling. Padahal, saham itu sesuatu yang ada ilmunya dan kita memang harus pelajari dulu dasarnya. Kata investasi berarti kita menabung uang kita untuk jangka panjang/ long-term. Jadi, sebelum mulai terjun ke dunia persahaman ini, ubah dulu deh mindset tersebut. 

Belajar dari berbagai referensi

Nah, mungkin ini bakal jadi sesuatu yang merepotkan jika kamu malas, enggak sabaran, mudah terpancing trend. Terlebih lagi, enggak semua orang punya background pedidikan ekonomi, finance atau semacamnya. Tapi menurut saya, belajar juga merupakan sebuah investasi yang penting. Membeli buku ataupun mencari tau di internet juga merupakan sebuah investasi material maupun waktu. Segala sesuatu yang dipersiapkan pun kadang-kadang tidak sesuai dengan yang kita inginkan, apalagi kalau enggak dipersiapkan. Jadi mending santai saja dulu sambil nyicil-nyicil belajar mengenal investasi saham lebih dalam. Banyak hal yang bisa dipelajari dulu kayak bagaimana cara kita membaca laporan keuangan perusahaan, memilih saham dengan analisis fundamental maupun teknikal, dan lain-lain. Enggak usah kemakan sama omongan orang buat segera bikin rekening dana investasi dan mulai beli saham. 
Santai saja, lebih baik merendah lalu meroket keatas kan, daripada langsung terbang tinggi trus malah nyungsep. 

Udah belajar, brarti udah bisa nih langsung terjun ke saham?
Eits, siap dalam knowledge bukan berarti bisa langsung mulai investasi saham. Kita butuh uang/money pastinya. Uang disini bukan sekedar uang biasa, tapi ada financial plan yang harus disiapkan terlebih dahulu. Kita perlu siapin dulu tuh yang namanya dana darurat. Dana darurat adalah dana yang dipersiapkan untuk keadaan genting atau darurat (emergency). Fungsi dana darurat sendiri itu sebagai dana cadangan dan untuk pengeluaran tak terduga. Misal nih, tiba-tiba kamu kehilangan pekerjaan, nah dana darurat itu bisa kamu fungsikan sebagai dana cadangan buat kamu hidup sementara. Atau kalau misalkan motor kamu tiba-tiba rusak, kamu bisa pakai dana daruratmu sebagai pengeluaran tak terduga. 


Kalau dalam dunia financial, dana darurat itu kayak pondasi dalam perencanaan keuangan. Besarnya dana darurat itu dari beberapa referensi yang saya baca antara 6 kali sampai 12 kali biaya hidupmu dalam satu bulan. Jadi misalkan gajimu Rp. 7 juta/bulan, trus biaya hidup satu bulan Rp. 4 Juta maka dana darurat yang kamu miliki setidaknya ada 24 juta (4 juta x 6). Punya dana darurat sebelum kamu mulai berinvestasi itu adalah fondasi yang kuat. Dan ingat ya, dana darurat itu enggak bisa kita sentuh sembarangan untuk kebutuhan yang sifatnya tidak darurat. Jadi kalau bisa sih dibuatkan rekening tersendiri untuk dana darurat. Kamu bisa simpan dana darurat ke berbagai insrumen yang sifatnya liqud (mudah dicairkan), contohnya itu tabungan, deposito dan reksadana pasar uang. 

Trus apakah kita bisa menabung untuk dana darurat sekaligus mulai berinvestasi? 
Jawabannya adalah ya, bisa. Yang paling penting adalah kamu punya rencana keuangan yang jelas sih, kembali lagi ini buat diri kamu sendiri. Sebagai contoh, gajimu 7 juta, kamu pakai buat biaya hidup 4 juta, nah sisanya kan 3 juta tuh, bisa kamu pakai 2 juta untuk nabung dana darurat, dan 1 juta buat kamu investasi. Ingat, jangan pernah berinvestasi menggunakan uang panas, dalam hal ini adalah uang yang harusnya kita gunakan untuk biaya hidup/ kebutuhan primer ataupun uang hasil pinjam. Selalu gunakan uang yang sudah kita bagi sesuai dengan keadaan finansial masing-masing (tiap orang pasti beda). Tujuan investasi itu buat mempermudah kehidupan kita dikemudian hari, jadi jangan malah bikin kita jadi susah. 

Dari tulisan saya ini, bisa kita simpulkan garis besarnya jika kita ingin berinvestasi ke saham, maka hal yang perlu kita siapkan itu:
1. Knowledge tentang investasi itu sendiri, termasuk bagaimana kita menilai produk saham yang baik
2. Financial plan dan rencana investasi yang jelas
3. Keadaan finansial yang sehat

Ribet banget emang, tapi itu cara yang bijak supaya kita engak berada di posisi susah dikemudian hari. Investasi saham itu bukan soal dulu-duluan, bukan soal ikut-ikutan trend, akan tetapi tentang bagaimana kamu udah siap secara knowledge, plan maupun money. Ketika udah mulai pun kita bakal tetep belajar karena saham itu sesuatu yang sangat dinamis (harga bisa naik turun dalam hitungan detik). 
Selamat belajar :)




Sabtu, 07 November 2020

Quarter Life Crisis


Ada bayak hal yang membuat kita secara otomatis mengaktifkan mode over-thingking. Sebuah mode dimana kita berfikir akan sesuatu yang jauh didepan dan belum terjadi, maupun sesuatu yang jauh dibelakang yang akhirnya menjadi penyesalan kita. Biasanya output dari mode ini adalah perasaan tertekan, tidak berguna, dan sejenisnya. Salahkah jika kita berada di mode over-thingking? kalau menurut saya sih enggak, toh ini normal dan wajar karena semua orang pasti pernah berada di situasi tersebut. Saya juga, hingga sekarang. Apalagi dengan kondisi pandemi kayak gini, tambah subur.

Salah satu hal yang membuat saya masuk mode over-thingking saat ini adalah sesuatu yang sering kita sebut sebagai "Quarter Life Crisis". Nama yang cukup keren, tapi dampak yang ditimbulkan enggak keren sama sekali. Dikutip dari wikipediaQuarter Life Crisis atau krisis usia seperempat abad merupakan istilah psikologi yang merujuk pada keadaan emosional yang umumnya dialami oleh orang-orang berusia 20 hingga 30 tahun seperti kekhawatiran, keraguan terhadap kemampuan diri, dan kebingungan menentukan arah hidup yang umumnya dialami oleh orang-orang berusia 20 hingga 30 tahun. 

gimana? gak keren kan?
Sampai saat ini pun saya belum menemukan cara untuk melewati fase ini selain mengikuti kemanapun arusnya mengalir. Maksudnya ya cuma bisa menjalani saja, gak bisa nawar. 

Pemicu "Quarter Life Crisis" setiap orang juga berbeda, mulai dari hal yang remeh hingga hal esensial. Korban dari fase ini juga enggak pandang bulu, siapapun bisa. 

"Kok dia sudah nikah, sudah punya anak, sudah punya rumah, sudah punya pekerjaan tetap nan enak? kok aku masih gini-gini aja, ketinggalan jauh banget, apa aku bisa sampai tahap mereka? apa yang aku lakuin sekarang bakal ada happy endingnya?"
Konyolnya, Quarter Life Crisis itu adalah sesuatu yang dibuat oleh diri kita sendiri. Begitulah kurang lebih si Quarter Life Crisis menggerogoti diri kita sedikit demi sedikit. Membuat kita terus terpaku memikirkan hal-hal tersebut sehingga waktu kita terbuang tanpa kita sadari. Membuat semangat menjadi loyo karena terus menerus memberi makan diri dengan sebuah pesimisme. dan tanpa kita sadari, kita justru membuat diri kita sendiri berada semakin jauh, semakin buruk dari yang selalu kita fikirkan, ini yang mengerikan. Saya pernah mendengar sebuah perkataan yang isinya kurang lebih seperti ini:

"Tidak semua yang Kita inginkan akan terwujud dan tidak semua yang Kita takutkan akan terjadi"

Intinya, jangan terlalu merasa bahwa kita harus mendapatkan hal yang kita inginkan. Karena ya itu,  enggak semua yang kita inginkan bakal terwujud. Jadi ya sebisa mungkin meminimalisir agar kita tidak jatuh terlalu dalam ketika gagal. Memang, perasaan ambisius untuk mendapatkan sesuatu itu baik untuk menambah semangat dan daya juang, akan tetapi kita mesti manage supaya tidak terlalu over hingga berada di luar kontrol. 

Kemudian perasaan takut akan segala hal yang belum terjadi, itu juga kurang lebih sama busuknya. Kadang-kadang bikin kita enggak ngotak, membayangkan kegagalan yang teramat besar, padahal memulai juga belum, apalagi kejadian. Biasanya yang kayak gini karena kita terlalu mendramatisir khayalan kita aja. Sadar atau tidak sadar perilaku semacam ini sering kita lakukan. Ketakutan berlebihan itu enggak baik (semua hal yang berlebihan memang enggak baik juga sih). Hingga saat ini saya masih belajar gimana caranya memanage rasa takut, susah memang, tapi harus diusahakan dan dibiasakan. Tidak semua yang Kita takutkan akan terjadi, kalaupun kejadian ya sudah. Harus kita terima kan, mau enggak mau, enak enggak enak. Jadi, daripada takut berlebihan,lebih baik kita siapkan diri untuk kemungkinan terburuk yang mungkin akan terjadi. 

Di usia kita yang memasuki krisis ini, masih banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Baik ? Buruk ? atau keduanya. Berfikir mendahului hal yang belum terjadi adalah sebuah bentuk kesombongan terhadap Tuhan. Apapun itu, mari kita nikmati saja hidup kita. Syukuri aja dulu apa yang kita punya, yang belum kita punya alangkah lebih baik hanya menjadi pengingat agar kita tidak sombong. 

Oh ya, bacot saya ini bukan untuk menggurui siapapun yang membaca tulisan ini. Murni tulisan ini dibuat sebagai pengingat pribadi, kalau bisa jadi pengingat bersama saya sangat senang. 


Minggu, 18 Oktober 2020

Being a Muslim in China





September 10 2019 was the first time I landed in Qingdao, China. Without expectation, I just want to do my best to live here. I don’t know how’s live here because I never go to overseas before. As I knew, China is one of the competitive countries with hard worker people. 


In China, I lived at the international dormitory (inside campus) located at Yushan Road, Shinan District, Qingdao, Shandong province. There are many international students from various countries like Thailand, Egypt, Pakistan, Bangladesh, Malaysia, Myanmar, India, and Indonesia as well. This dormitory dominated by Asian countries. 


How are lives as a Muslim in China?


Okay, let me breakdown into several aspects related to Muslims.


1. Food  

When we talk about food, it’s always related to culture and habit. In China, We can found rice easily. As an Indonesian, it’s a positive point because We eat rice every day. How about halal food? Fortunately, our campus provides halal food on the 3rd floor of the restaurant. There are many halal foods at cheap prices. How’s taste? For me, the taste is good enough. I have tried several kinds of food here. My favorite menu is fried chicken + eggplant + rice. I never bored eating that food. The restaurant opens every day at 11.00 AM and 17.00 AM. Don’t come late otherwise, you will not get any food. Anyway, we can eat outside the campus and find a “Lanzhou Restaurant” but the price is not cheap compared to the price inside the campus. 

Halal Restaurant in my Campus





2. Mosque

The important thing when you come to another country is to find where the mosque located. Fortunately, our city has a mosque located in Fushan which is 1 hour from my dormitory by bus. Every Friday and my Muslim friend go to the mosque by Bus (No. 307). For one trip by bus, we pay 1 yuan (IDR 2000). In China, we use transportation card or digital payment like WeChat pay and Alipay. Everything is cashless, amazing. Even the mosque provides payment barcodes if we want to donate. Another interesting thing is we can found a halal market and restaurant beside the mosque. In this market, we can buy instant food, snack, basic food ingredients, and many more. We also can eat meat here. Everything is halal. 

Qingdao Mosque

at the backside of Qingdao Mosque 



3. Social

As far as I live in China, I can do any activities related to Islam. Every people is busy with their business. The Muslim people in Qingdao city is also friendly with Muslims from overseas. Everyone has the freedom to do activities as long as they are still within the normal corridor and do not interfere. 






Based on my experience, as a Muslim who lives in China, It’s convenient enough to be here. We can find halal food easily. We also can gather with another Muslim from several countries and from China as well. I don’t have any problems here. The most important thing is:

“give your respect to others, then you will be respected”