Featured Post

Recommended

Life Intentionally: Belajar Mengendalikan Pola Hidup

Rutinitas kehidupan adalah sebuah penjara yang terkadang membuat kita bosan untuk menjalani siklus tersebut. Hari yang lelah, bangun terlamb...

Kopi

Kopi

Deadline dan banyak pekerjaan membuat saya kembali kepada kebiasaan lama saya, minum kopi. Nampaknya, belum ada booster yang bisa membuat saya terjaga dan fokus di depan laptop untuk waktu yang cukup lama selain kopi. Bahkan kali ini secara hierarki kebutuhan, kopi sudah bergeser menjadi kebutuhan primer di hidup saya. 

Nggak cuma di rumah, saya terkadang membeli kopi di coffee shop agar tidak bosan. Tentu beda rasanya, kopi yang saya buat dengan tangan sendiri dibandingkan kopi yang dibuat oleh barista menggunakan alat. Lebih detail, penyajian kopi di coffee shop juga sangat diperhatikan, mulai dari cangkir/gelas hingga estetika kopi itu sendiri. 

Hal tersebut membuat saya ingin memperbaiki cara penyajian kopi di rumah. Mulailah saya membeli cangkir kopi yang lebih estetik. Awal-awal, saya menjadi lebih semangat untuk membuat kopi setiap pagi, entah bagaimana kopi saya menjadi terasa lebih nikmat dari sebelumnya. Padahal cuma ganti wadah. 

Waktu terus berjalan bersama dengan kebiasaan ngopi saya setiap hari. Saya kembali menemukan kejenuhan dengan kopi yang saya minum. Apakah harus membeli cangkir yang baru untuk mendapatkan suasana ngopi yang baru lagi?. Beberapa cangkir dengan desain yang modern saya save di aplikasi belanja online. Sudah banyak wishlist yang saya simpan, tapi belum saya check out karena masih melihat-lihat banyaknya desain cangkir yang bagus yang tidak ada habisnya. 

Setelah Scroll demi scroll, saya justru semakin bingung mau beli cangkir yang mana lagi. Di tengah kebingungan itu, saya kembali menyeduh kopi. Secangkir kopi panas tanpa gula dengan takaran yang sama seperti yang biasa saya buat setiap hari. Bedanya kali ini saya menggunakan sembarang cangkir (bukan yang biasa saya gunakan). Sungguh kopi dengan rasa yang sama seperti pertamakali saya buat, dan itu membuat saya merenung sejenak. 

Saya dihadapkan fakta bahwa, cangkir sama sekali tidak menambah atau mengurangi kualitas kopi. Dalam beberapa kasus memang cangkir bisa membuatnya terlihat mahal, namun dalam kasus lain itu justru bisa menyembunyikan apa yang kita minum. 

Ternyata, apa yang benar-benar saya butuhkan adalah kopi, bukan cangkirnya. Tetapi secara sadar di banyak momen saya memilih cangkir terbaik. Dan kemudian membandingkan cangkir-cangkir tersebut. 

Mungkin kalau bisa diibaratkan, kurang lebih seperti ini: 
Hidup kita adalah kopi. 
Pekerjaan, jabatan, uang dan status sosial adalah cangkirnya. Mereka hanya alat untuk menahan dan menampung kehidupan kita. Jenis cangkir yang kita miliki tidak selalu menentukan, atau mengubah kualitas hidup yang kita jalani. 

Bahkan, ketika kita hanya berkonsentrasi pada cangkir, kita malah gagal menikmati kopinya. Sama seperti yang sedang saya alami. Saya terlalu fokus mencari cangkir kopi hingga baru menyadari bahwa kopi yang saya seduh dengan cangkir sembarangan ini memiliki rasa yang sama seperti halnya kopi-kopi yang biasa saya buat.

Memandang kopi dan hidup memang tidak sepenuhnya bisa disamakan. Tapi kali ini, sepertinya saya telah diingatkan untuk lebih menikmati kopi, bukan cangkirnya. 



Life Intentionally: Belajar Mengendalikan Pola Hidup

Life Intentionally: Belajar Mengendalikan Pola Hidup

Rutinitas kehidupan adalah sebuah penjara yang terkadang membuat kita bosan untuk menjalani siklus tersebut. Hari yang lelah, bangun terlambat, lanjut menjadi seperti zombie seharian penuh, dan kemudian kembali tidur. Hal tersebut sering menjadikan kita kehilangan gairah untuk berkembang lebih baik. Biasanya, kita hanya menyalahkan rasa "malas" untuk membenarkan segala bentuk aktivitas buruk yang tidak produktif.

Pernahkah Kamu "berusaha" untuk menurunkan berat badan sejak lama, tetapi tampaknya kamu tidak dapat membuat kemajuan karena kamu melewatkan latihan dan tidak memiliki kemauan untuk makan makanan sehat?

Apakah kamu termasuk orang yang kecanduan game, youtube, instagram, twitter, tiktok dan berbagai macam sosial media lainnya? 

Apa sebegitu sulitnya bagi kamu untuk bisa fokus selama 1 jam tanpa menyentuh smartphone? 

Kemudian, apakah kamu merasa bahwa kamu tidak memiliki kontrol nyata atas hidupmu?

Silahkan jawab dari hati kamu yang paling dalam. Jika beberapa/semua pertanyaan diatas kamu jawab dengan "IYA", maka sudah selayaknya untuk memperbaiki itu semua. Mengubah dirimu dari orang yang selalu mengkonsumsi hal yang tidak produktif, menjadi seorang pejuang yang fokus pada ambisi masa depan.

Live Intentionally adalah sebuah buku yang dapat melatih pengedalian pola hidup kamu. Buku ini mengadaptasi proyek 90 hari untuk meningkatkan nilai-nilai pribadi. Bukanlah waktu yang cepat karena buku ini tidak termasuk dalam bacaan instan, meskipun kamu bisa menyelesaikan isi buku ini dalam sehari. Pekerjaan rumah setelah membaca buku ini adalah 90 hari, sebuah waktu yang tidak singkat sama sekali. Hasilnya, kata orang yang sudah baca dan selesai mengaplikasikannya bisa kayak gini:

Ilustrasi/gambar ini dibuat oleh orang yang sudah membaca buku ini, bukan karena saya diendorse sama ini buku ya. 

Memangnya apa yang akan dilakukan selama 90 hari tersebut?

Berikut ini adalah beberapa poin yang akan kamu lakukan selama 90 hari setelah membaca buku tersebut:

- Menyingkirkan kebiasaan buruk yang memperlambat aktivitasmu, seperti bermalas-malasan
- Mulai berolahraga rutin, mengkonsumsi makanan sehat, mengurangi asupan lemak serta memperbaiki pola makan
- Mengucapkan selamat tinggal pada pornografi dan kecanduan media sosial yang kamu derita
- Membuat misi/tujuan pribadi untuk diri sendiri dan mengerjakan itu semua sebaik mungkin
- Bangun disiplin, mengontrol diri, dan mengontrol emosi 
- Memperbaiki pola pikir dan menyingkirkan pola pikir yang merugikan diri sendiri dengan membaca buku
- Melatih fokus dan mentalmu melalui meditasi yang dilatih setiap hari (hingga akhirnya dapat fokus selama lebih dari 2 menit)

Selama proyek 90 hari ini, kamu akan terbiasa untuk membuang kebiasaan buruk dan tidak produktif yang menghabiskan waktu serta tidak memberikan imbalan apa pun untukmu. Selain itu, selama 90 hari kamu akan memiliki misi - tujuan yang ingin dikejar. Ini bisa berupa apa saja mulai dari menurunkan berat badan hingga mendirikan bisnis online dan menghasilkan uang sampingan, serta apa pun yang kamu inginkan.

Kamu tidak akan lagi merasa "Saya telah melakukannya selama beberapa hari dan kemudian saya kehilangan motivasi". Sebuah pemikiran yang telah mengganggu tujuan pribadimu selama berbulan-bulan, dan dalam beberapa kasus, bertahun-tahun. Buku ini akan membantumu dengan memberi struktur, disiplin, dan rutinitas melalui komitmen tinggi. Bukan cuma tulisan, tapi kamu akan diberi contoh untuk membuat list hal yang harus kamu lakukan selama 90 hari tersebut. Apa saja hal yang harus kamu hindari serta bagaimana kamu bisa tetap stay pada tujuan besarmu. 

Hal yang perlu kamu pahami adalah buku ini tidak berisi kumpulan mantra yang akan otomatis membuatmu menjadi manusia paling disiplin setelah membacanya. Jadi pastikan untuk membuat komitmen dengan dirimu sendiri untuk melakukan proyek 90 hari tersebut. 

Pada dasarnya, buku ini sama dengan buku-buku lainnya yang bertujuan untuk membentuk kebisaan baru dalam hidup. 90 hari adalah waktu yang cukup ideal bagi seseorang untuk menimpa kebisaan lama dengan kebiasaan baru yang lebih baik. 

Apabila dalam proses pembentukan kebiasaan baru tersebut kamu mengalami sebuah kegagalan, maka pada hari berikutnya harus kamu hitung sebagai hari ke-1 lagi. Jangan sampai kamu merasa bahwa kamu sudah gagal, jadi proyek tersebut tidak kamu teruskan lagi. Lebih baik mulai lagi dari 0 daripada harus kembali pada kebiasaan lama yang membuatmu menjadi orang paling berdosa terhadap dirimu sendiri.
Berendam di Laguna Pantai Wediombo Gunung Kidul

Berendam di Laguna Pantai Wediombo Gunung Kidul

Siapa bilang bulan puasa adalah waktu yang buruk untuk pergi ke tempat rekreasi seperti pantai. Justru sebaliknya, pergi ke pantai ketika bulan puasa adalah hal yang cukup menyenangkan. Itulah yang saya rasakan. Meskipun akan menguras tenaga yang lumayan, tapi kepuasan menikmati aroma air garam sungguh tidak ada duanya. Mari kita mulai cerita perjalanan saya dan teman-teman saya yang pergi ke pantai Wediombo di bulan puasa. 

Berangkat

Kami berangkat menuju Gunung Kidul siang hari setelah dhuhur. Alasannya karena di waktu tersebut rasa ngantuk sudah tidak terlalu kuat, selain itu juga kami menggunakan mobil jadi tidak terlalu khawatir akan kehilangan banyak cairan selama di perjalanan. Inilah enaknya berangkat ketika siang hari di bulan puasa, jalanan sangat lancar, no macet sehingga kami bisa lebih santai tanpa harus terburu-buru. Perjalanan yang menyenangkan adalah awal yang baik untuk membangun mood sebelum menikmati keindahan pantai.



Sampai di Tujuan

Pantai Wediombo, Gunung Kidul adalah tujuan kami dari awal. Jalannya tidak terlalu susah dan bisa dilewati kendaraan roda 4. Total 2,5 jam perjalanan dari kota Jogja untuk bisa sampai kesini. Satu hal yang sedikit menjadi masalah adalah jarak dari parkiran ke bibir pantai yang cukup jauh dan harus menuruni anak tangga yang lumayan tinggi. Tapi itu cukup terbayarkan dengan suasana pantai yang cukup asri dan lumayan sepi dibandingkan hari-hari biasanya. nice.


Sesampainya di pantai kami langsung berjalan ke sepanjang pinggiran pantai untuk menikmati angin serta mengambil beberapa foto dengan hp. Karena saat kami sampai air laut sedang surut, kami bisa melihat berbagai macam organisme seperti ikan, kerang ataupun kepiting yang bersembunyi di sela-sela batu karang. 





Laguna Wediombo

Puas mengeksplorasi sisi pantai, kami melanjutkan perjalanan ke Laguna atau kumpulan air yang tenang yang dipisahkan oleh batu karang di pinggir pantai. Sederhananya laguna itu semacam kolam renang alami air asin di pinggir pantai. Nah, di pantai Wediombo ini terdapat sebuah laguna yang tidak cukup besar namun cukup untuk bersenang-senang. Sekitar 20 menit adalah waktu yang kami butuhkan untuk sampai ke laguna, jalan yang dilewati juga cukup susah karena berupa batuan karang yang keras dan agak tajam.


Tanpa menyia-nyiakan waktu, kami langsung ganti baju dan berendam di air garam tersebut. Airnya jernih, tidak dingin, juga tidak panas, rasanya nyaman untuk berlama-lama disitu. Pada awalnya air di laguna tidak terlalu tinggi sampai akhirnya menjadi semakin tinggi karena air laut yang mulai pasang. 


Karena kami sedang puasa, maka sebisa mungkin tidak berenang sampai ke dalam karena takut ada air yang masuk ke mulut meskipun tidak sengaja. ya sebisa mungkin menghindari lah. Oh ya, di laguna tersebut kami bisa melihat organisme laut seperti ikan, keiting, kerang, bulubabi, dan banyak lagi yang lainnya. Batu dan pasir menjadi dasar dari laguna, jadi kami bisa berenang atau berendam tanpa menggunakan alas kaki. 


Waktu menunjukan pukul 16.00, tandanya kami harus segera berdiri untuk kemudian mandi air tawar dan menyiapkan buka puasa. Di pantai Wediombo sendiri ada banyak kamar mandi untuk bilas yang dikenakan tarif Rp. 2000. Selesai mandi, kami mulai mencari tempat makan untuk berbuka puasa.


Berbuka Puasa di Tepi Pantai

Saat puasa tempat makan yang buka sangat jarang, tapi beruntung kami menemukan tempat makan di tepi pantai yang buka saat itu. Sebuah tempat makan yang menyediakan sea food. Jam memang baru menunjukan pukul setengah 5 sore, namun kami memutuskan untuk order makanan supaya bisa segera berbuka ketika tiba waktu maghrib. 


Sembari menunggu waktu berbuka, kami disuguhkan dengan pemandangan sunset yang cukup indah. Pasalnya pantai Wediombo ini menghadap ke barat, jadi kami bisa melihat detik-detik matahari yang mulai turun sedikit demi sedikit. Indah banget, asli.




Waktu berbuka tiba, akhirnya kami bisa memakan makanan yang dari tadi dipandangi selain senja pantai yang hangat. segar dan nikmat. setelah capek berjalan-jalan di pantai, semua rasa haus dan lapar terbayar dengan lunas. 

Pulang

Kami pulang selepas maghriban di pantai. Keadaan pantai cukup sepi, hanya ada beberapa rombongan selain kami. Ditambah pencahayaan tepi pantai yang kurang, kami akhirnya memutuskan untuk kembali ke Jogja. 

Berekreasi ke pantai saat puasa itu cukup menyenangkan, asal pergi ke tempat yang tepat dan juga dengan orang yang asik. Memang, butuh moda transportasi yang cukup nyaman agar bisa menyimpan tenaga selama di perjalanan. Tapi selain itu, semuanya sangat memuaskan secara lahir maupun batin. 

Oh ya, selama di pantai Wediombo sinyal hp kami mendadak hilang. Provider yang kami gunakan adalah Telkomsel dan XL. Satu sisi hal tersebut membuat kami merasa nyaman karena tidak terlalu fokus dengan hp, tapi dilain sisi itu menyulitkan salah satu teman saya yang harus melakukan absensi kuliah secara online saat itu.

Overall, vacation kali ini sangat menyenangkan. Membuat kesan yang membekas. Selain banyak foto-foto cantik yang kami dapatkan, perasaan jiwa yang segar adalah after taste dari main-main kali ini ke pantai Wediombo. 

Ya itung-itung healang healing t*i kucing lah.

 


Menjadi Manusia Bernilai Menyongsong Indonesia Memimpin Dunia 2045

Menjadi Manusia Bernilai Menyongsong Indonesia Memimpin Dunia 2045



Judul dari posting ini adalah tema dari sebuah ceramah ramadhan di Masjid Kampus UGM yang disampaikan oleh Bapak Anies Baswedan (Gubernur DKI Jakarta). Bisa dibilang beliau ini mudik atau pulang kampung untuk bertemu dengan teman dan kampus tercintanya, Universitas Gadjah Mada.
Saya mencoba menuliskan ringkasan dari kajian yang dilaksanakan setelah sholat tarawih berjamaah di maskam UGM tersebut.

Ceramah diawali dengan cerita lama beliau ketika belajar di UGM beberapa puluh tahun silam. Sebuah cerita ketika KFC pertamakali buka di malioboro Jogja, dan beliau bersama dengan teman-teman aktivis angkatannya datang untuk memesan beberapa menu. Kentang goreng akhirnya datang ke meja mereka, dibarengi dengan pertanyaan dari pelayan yang menanyakan apakah pesanan mereka sudah lengkap semua?. Dengan polosnya pak Anies menjawab bahwa pesanan mereka masih kurang, "french fries-nya belum mbak.." ucap beliau. Ketidaktahuan beliau dan teman-temannya bahwa french fries sama dengan kentang goreng, menunjukan betapa ndesonya mahasiswa Gadjah Mada waktu itu. 

Cerita nostalgia belum selesai. Selanjutnya adalah cerita ketika beliau dan teman-temannya membuat training di Kalimantan Timur. Masih dengan cerita betapa ndeso nya mahasiswa UGM yang tidak bisa membedakan antara take off atau landing

Tapi dari itu semua, ada hal yang lebih ndeso, dimana salah satu teman beliau tidak mau turun dari pesawat ketika pesawat sudah sampai ke bandara Juanda Surabaya untuk transit. Terjadilah percakapan yang kurang lebih seperti ini:

"ed ed, mudun yuk (ed ed, ayo turun)" ucap salah satu teman beliau
"ora lah, aku neng kene wae (enggak ah, aku mau disini aja)" jawab teman beliau yang tidak mau turun dari pesawat itu

"Mudun wae (turun aja)
"Ora sah, aku neng kene wae (enggak usah, aku disini saja)"

"Lhah ngopo? (lah, kenapa?)"
"Iki lek mbuka e piye? (Ini cara membukanya gimana?)" sambil menunjuk seat-belt yang masih terpasang, LOL.

Jadi, salah satu teman beliau ini bertahan dan tidak mau turun pesawat karena alasan tidak bisa membuka seat-belt, namun malu untuk bertanya (gengsi bos). Tapi, justru orang inilah (dari satu angkatan beliau) menjadi orang yang paling banyak keliling dunia karena dia menjadi wartawan di Istana Negara pada zaman Presiden Gus Dur. 
Pria yang tidak bisa membuka seat-belt pesawat itu adalah pria yang paling banyak keliling dunia.

Gadjah Mada bagi beliau bukan hanya kampus saja, tapi tempat beliau tumbuh saat masa kecil karena rumah beliau hanya 500 meter dari utara kampus UGM.


Anak muda berbicara masa depan, orang tua cerita masa lalu.

Masa depan dari peradaban umat manusia akan berada di perkotaan. Tahun 2027 nanti, pertamakali dalam sejarah umat manusia, penduduk dunia yang tinggal di kota akan lebih banyak daripada yang tinggal di pedesaan. 

Kemudian bagaimana dengan umat Islam?

Kalau melihat dari sirah nabawiyah, maka akan didapatkan fakta bahwa Islam itu berkembang pesat di kawasan Urban (perkotaan). Islam adalah agama yang tumbuh pesat di wilayah perkotaan dan padat penduduk, contohnya adalah Mekah. Semua urusan yang disebut dengan pengelolaan pemerintahan sesungguhnya adalah pemerintahan kota. Selain itu, perintah untuk melaksanakan puasa di bulan Ramadhan juga turun dari surat Al Baqarah ayat 183 yang turun di kota Madinah. Jadi sesungguhnya, bagi umat islam bicara tentang kota adalah bukan sesuatu yang baru.

Bicara tentang tantangan perkotaan, Jakarta menjadi sebuah kota yang menjadi melting pot, dimana semua orang dari penjuru Indonesia berkumpul disitu. Sebenarnya Jogja juga sama, hanya turn over-nya cukup tinggi atau orang hanya numpang tinggal selama 4 tahun. Meskipun banyak yang mengatakan bahwa orang yang pernah minum air dan sujud di kota Jogja akan sulit untuk melupakannya. 
Jogja itu romantis sekali, *bagi yang punya kenangan. 

Salah satu tantangan besar di Jakarta adalah transportasi

13 juta kendaraan roda dua dan 3 juta kendaraan roda empat atau total 16 juta kendaraan  bermotor dengan 11 juta penduduk. Yang terjadi adalah kemacetan di Jakarta. 

Solusinya? pemprov Jakarta melakukan pembatasan kendaraan pribadi dengan meningkatkan fasilitas kendaraan umum seperti JakLingko. Berawal dari keinginan untuk membuat transportasi umum Jakarta menjadi terjangkau secara harga, terjangakau secara jarak, dan nyaman. 

Pemprov Jakarta akhirnya bersepakat dengan para operator kendaraan umum untuk membeli jasanya dan membayarnya per kilometer perjalanan, membuat kendaraan umum tersebut yang awalnya nge-tem dan membuat macet, menjadi terus jalan muter sesuai rute (karena dibayar per kilometer oleh pemerintah), sementara itu warga sebagai pengguna jasa kendaraan cukup membayar Rp. 5000/3 jam,  itulah JakLingko. 

Dampaknya? dulu pengguna kendaraan umum Jakarta sebanyak 350 ribu orang per hari, sesudah dibuat sistem baru tersebut angkanya meningkat menjadi 1 Juta orang per hari. Sekarang bahkan sedang menuju ke angka 4 Juta orang perhari. Jakarta semakin turun dari ranking kota termacet di dunia, dari peringkat 4 di dunia tahun 2017 turun menjadi peringkat 64 tahun 2021.

Selain kedaraan umum yang nyaman, trotoar juga menjadi fokus dari pemprov Jakarta. 
"Jika sebuah kota menganggap bahwa kendaraan itu adalah beroda (memiliki roda), maka dia tidak akan menyiapkan jalan untuk orang, padahal alat transportasi yang dimiliki oleh semua orang namanya kaki. Ironisnya kaki menjadi kendaraan yang kurang difasilitasi."

Paradigma yang menyebabkan kemacetan telah diubah, dari kebijakan beberapa dekade yang lalu dengan menempatkan pembangunan infrastruktur untuk kendaraan pribadi > kendaraan umum > pejalan kaki. Sekarang diubah menjadi prioritas yang berbeda, pembangunan infrastruktur paling utama adalah trotoar (pejalan kaki) > jalan sepeda > kendaraan umum > kendaraan pribadi. Kurang dari kurun waktu 4 tahun, Jakarta telah membangun kurang lebih 341 km trotoar. 

Ruang Ke-3

Kita mengenal ruang ke-1 adalah di rumah, ruang ke-2 tempat kerja, dan ruang ke-3 adalah ruang publik untuk interaksi. Selama beberapa dekade terakhir, ruang ke-3 disediakan oleh swasta (mall dan taman). Taman sebagai salah satu ruang ke-3 di Jakarta diperhatikan oleh pemerintah. Ruang ke-3 menjadi hak untuk semua orang secara setara. Membangun ruang ke-3 adalah membangun sosiologis masyarakat, agar menjadi setara. 
"Bangunlah infrastruktur dengan gagasan sosiologi. Bukan hanya infrasturktur yang dibangun untuk infrastruktur, tetapi infrastruktur yang dibangun untuk tujuan sosial"

Perasaan kesetaraan hadir sebagai dampak dari diperhatikannya ruang ke-3 sebagai tempat berkumpul dan berinteraksi. Jakarta sebagai kota yang tersegregasi dimana warganya sangat membutuhkan ruang publik untuk berkumpul karena tempat mereka tinggal sudah semakin sempit, padat dan pengap. Perasaan nyaman dan setara itulah yang hadir dan akan menjadi perasaan persatuan.

Mencegah kebakaran tidak terlihat pahlawannya, sedangkan memadamkan kebakaran terlihat pahlawannya. Sebagian besar pekerjaan pemerintah adalah pencegahan, yang membuatnya tidak terlihat sebagai pahlawan. Namun yang perlu digaris bawahi adalah tindakan pencegahan akan selalu dicatat sebagai amal pahala yang mengalir

Menjadi seorang pemimpin adalah menjadi seorang yang diakui oleh semua orang, bukan yang meminta pengakuan. Seorang berubah statusnya menjadi imam jika dan hanya jika memiliki makmum (pengikut) meskipun hanya satu. 

Refleksi Seorang Gubernur Jakarta

Bekal untuk menghadapi segala tantangan permaslahan seorang gubernur ibu kota, didapatkan dari masa pembelajaran di pesantren yang bernama Gadjah Mada. Pada masa pembelajaran tersebut kita dilatih untuk dihadapkan dengan masalah, berfikir secara sistematis, serta berorientasi terhadap solusi. Proses tersebut dijalani tanpa disadari dan baru terbukti ketika dihadapkan pada permasalahan nyata. 

Pesan Untuk Mahasiswa

Jadilah mahasiswa yang sibuk
Jadilah mahasiswa yang kekurangan waktu 
Jadilah mahasiswa yang kerepotan mengatur jadwal.
Kalau anda adalah mahasiswa santai, berarti anda sedang dalam masalah.

Refleksi dari Medaki Gunung

Ketika kita mendaki dalam kegelapan, kita tidak tau mengenai rute, tetapi yang bisa kita ketahui adalah:
- kalau jalannya datar: kita sedang tidak kemana-mana
- kalau jalannya menurun: kita lebih tidak kemana-mana
*Jalan datar itu nyaman, jalan menurun lebih nyaman lagi.
TETAPI
- kalau jalan kita mendaki, kita pasti sedang menuju ke puncak. 
*mendaki itu pasti berat, penuh tantangan, akan tetapi mendaki membuat kita mencapai puncak baru yang bisa kita raih.

Selalu Berfikir Secara Global

Lokasi lahir boleh di mana saja, lokasi belajar boleh di Jogja, tapi kompetensi harus tingkat dunia.
Kompetensi dunia juga harus punya akar yang kuat, yaitu: iman, islam dan akhlak.


Pesan Terakhir

Hal yang paling harus kita bawa dari Gadjah Mada adalah pesan tentang Keadilan. UGM serius memikirkan tentang ketimpangan, kampus ini mendidik kita tentang keadilan.  Jangan sampai keluarga pejuang republik ini terusir dari tanah yang mereka perjuangkan.


Apabila ingin mendengarkan isi ceramah pak Anies Baswedan di Maskam UGM secara lengkap bisa tonton di sini: