Agustyar

Rabu, 04 Agustus 2021

Pantai Jungwok, Destinasi Hidden Sea di Jogja yang mirip Tanah Lot
Ada banyak alasan ketika memilih Jogja sebagai tujuan berlibur dan berwisata. Makanan khas, suasana kota yang istimewa, serta keindahan alam dari gunung hingga pantai yang menjadikan Jogja sebagai salah satu pilihan destinasi liburan terbaik. Pantai adalah salah satu daya tarik Jogja yang tidak boleh terlewatkan ketika Anda berlibur ke Jogja. Terdapat banyak nama pantai yang tersohor ketika menulis Jogja sebagai keyword destinasi wisata di google. Sebut saja pantai Parangtritis, Indrayanti, Timang, Glagah, Goa Cemara dan masih banyak yang lainnya. Deretan nama pantai tersebut sudah lazim menjadi list tujuan para wisatawan ketika menjajakan kaki di Jogja.  

Pantai Jungwok, nama yang membuat sebagian besar orang berpikir bahwa pantai tersebut terletak di pesisir Korea. Kenyataannya nama tersebut tidak ada kaitannya dengan negeri gingseng sama sekali. Jungwok, nama yang unik untuk sebuah pantai yang berlokasi di Gunung Kidul, Jogja. Berlokasi di sebelah pantai Wediombo, pantai ini memiliki keindahan dan keunikan yang tidak dimiliki oleh deretan pantai cantik di sepanjang Gunung Kidul. Letaknya yang cukup tersembunyi membuat pantai Jungwok sering disebut sebagai hidden sea. Selain itu, pantai ini tergolong masih jarang dikunjungi oleh wisatawan, sehingga sangat cocok untuk Anda yang suka dengan wisata anti-mainstream.




Berikut gambaran mengenai pantai Jungwok yang bisa Anda jadikan sebagai referensi wisata

 

Memiliki kemiripan dengan Tanah Lot yang berada di Tabanan, Bali

Watu Topi, batu karang besar yang mirip dengan Tanah Lot

Hal pertama yang membuat pantai ini unik adalah pemandangan sebuah batu besar yang berada tepat di depan pantai. Batuan karang tersebut memberi aksen tersendiri yang membedakan Jungwok dengan deretan pantai lain di Gunung Kidul. Cukup berfoto dengan background batu karang tersebut, Anda tidak perlu pergi jauh ke Tanah Lot. Penduduk sekitar sering menyebut batu karang tersebut dengan sebutan Watu Topi

 

Biru laut, putih pasir dan hijau vegetasi menjadi perpaduan yang cantik dan alami pantai Jungwok

biru laut, putih pasir dan hijau vegetasi menjadi perpaduan indah dan alami Jungwok

Keindahan Jungwook bisa Anda nikmati untuk melepaskan penat dan beban fikiran sejenak. Laut yang terlihat sangat biru serta hamparan pasir putih akan memanjakan mata, pun hijau tumbuhan di pesisir pantai ini yang turut menyumbang segarnya udara. Berlama-lama disini akan memberi waktu pada Anda untuk melakukan refleksi kehidupan. Pantai ini sangat cocok untuk menjadi pelarian sementara dari segala penat dan permasalahan hidup. Ketentraman dan ketenangan fikiran bisa dengan mudah didapatkan sehingga tidak hanya badan, tapi fikiran juga akan kembali segar. 

 

Hobi camping? Jungwok bisa memberi Anda pengalaman malam yang indah dan tak terlupakan
camping di Jungwok seru juga lho

Beberapan wisatawan yang datang tak jarang memutuskan untuk bermalam di Jungwok untuk menikmati sunrise dan sunset. Kendatipun Anda tidak mempersiapkan tenda dan alat perlengkapan camping, semuanya bisa Anda sewa di beberapa tempat penyewaan yang berada tepat di sekitar pantai. Terdapat juga warung makanan yang selalu buka 24 jam, sehingga kelaparan tidak akan menjadi masalah serius ketika Anda memutuskan untuk camping di sini. Selama camping kebersihan, adab dan sopan santun perlu dijaga untuk menghormati para “penduduk setempat”.  

 

Banyak spot foto yang cantik untuk memuaskan hobi fotografi Anda

Watu Topi dari angle atas bukit

Salah satu oleh-oleh yang wajib Anda bawa dari pantai Jungwok adalah foto dengan beragai spot cantik. Ada banyak spot yang bisa digunakan untuk mempercantik objek foto. Selain batuan karang besar (Watu Topi) yang mencolok, Jungwok memiliki beberapa bukit yang cukup mudah untuk dinaiki guna mendapatkan angle kamera yang berbeda. Karang sekitar pantai menghasilkan gulungan ombak yang bisa digunakan sebagai background mengabadikan momen bersama teman dan orang tercinta. Oleh karena itu hal, yang perlu Anda catat sebelum ke pantai ini adalah jangan lupa untuk membawa kamera terbaik serta orang tercinta untuk berbagi kebahagian disini.

 

Fasilitas umum sudah cukup memadai dan kebersihan pantai selalu terjaga

plank selamat datang di Jungwok

Pantai Jungwok sudah sangat ramah untuk wisatawan karena pemerintah dan warga setempat sangat memperhatikan fasilitas umum dan kebersihannya. Mulai dari tempat makan, tempat penyewaan tenda dan tikar, parkir sepeda motor dan mobil, tempat ibadah, hingga toilet umum yang cukup mudah untuk diakses. Fasilitas kebersihan juga bisa dikatakan baik serta adanya petugas kebersihan yang selalu sigap untuk menjaga kebersihan pantai. Meski demikian, sebagai pengunjung tetap harus mematuhi peraturan dengan membuang sampah pada tempat yang sudah disediakan. Kedepannya, Jungwok akan menjadi salah satu destinasi cantik yang bisa menarik wisatawan dari berbagai penjuru Indonesia maupun dunia.

 

Akses menuju pantai Jungwok

rute menuju Jungwok dari pusat kota Jogja


Letak dari pantai Jungwok serta medan untuk sampai ke lokasi memang tidak mudah. Pantai Jungwok sendiri terletak di Desa Jepitu, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperlukan waktu sekitar 2,5 jam dari pusat kota Jogja hingga sampai ke pantai ini. Rute dari pantai ini juga sudah tersedia di google maps meskipun jalan masuk ke pantai tergolong sulit karena masih berupa batuan karang. Jalan tersebut sudah cukup untuk dilewati oleh sepeda motor maupun sebuah mobil sampai ke parkiran pesisir pantai. Kesulitan tersebut akan terbayar lunas ketika Anda sampai di pantai ini.

Ada banyak cara untuk meghabiskan masa liburan ketika Anda berada di Jogja. Waktu dan momen Anda ketika di Jogja sangat berharga, sehingga perlu adanya persiapan list kuliner dan tempat wisata dengan baik. Jungwok mungkin bisa menjadi salah satu list tempat wisata yang Anda kunjungi ketika berada di kota Gudeg ini. Keindahan dan kesegaran alam Jungwok dapat memberi satu memori yang tak terlupakan tentang istimewanya Jogja, yang akan membuat Anda kembali ketika rasa rindu itu telah menghampiri.
 

 

Minggu, 01 Agustus 2021

August

Days passed, months passed, years left.  Everyone has a memory left behind, even though they have memories.  Memories are good, bad, or ordinary.  August for me became ordinary.  In the past, I always looked forward to this month but not this year.  Not at all.  I hope this month doesn't serve as a reminder of how I've aged.  Yes, everyone commemorates the birthday as a reflection of the decreasing age.

 August, the month of independence for the country where I have lived, drink the water and breathe the air.  It is an honor to be born in August.  However, for this year I don't seem to care much about it.  Just this time or maybe next year.

 An announcement resounded, announcing to every house to raise the red and white flag.  It is a culture of Indonesian citizens to respect how hard the struggle for independence is.  The struggle of the heroes is not obtained for free of course.  The amount of Blood paid countless lives to obtain this peace.  Therefore, waving the red and white flag is an attitude to appreciate it.

 August this year brought my feelings to just fly the white flag.  Not without reason.  Feelings of wanting to give up, sadness, despair are too domineering.  I feel stupid to say that, but that's how I feel.

 Indeed, I don't want to bring up August, but the truth is I cared about making this post.  That's how I release all the stress through writing.  A hate-love relationship is probably the right definition for this.

 Today I am lost, torn apart by painful realities.  The domination of the increasingly piercing sense of despair.  A hope that I want is that one day I read this post, everything has turned around.  Circumstances, zest for life, luck could soon embrace me.  Only that.




Kamis, 29 Juli 2021

Pertamakali coba plant-based diet
Saya selalu percaya bahwa apa yang saya makan adalah sesuatu yang akan berdampak dikemudian hari. Meskipun sejauh ini kalimat tersebut hanya sebuah kalimat klise yang bahkan saya sendiri masih abai terhadap makanan yang saya makan. Apapun saya makan, tanpa pandang kualitas dan kuantitas. Suatu hari, saya melihat sebuah trend tentang plant-based diet, ah paling juga trend musiman biar kelihatan sehat pikir saya.

Sampai suatu ketika saya melihat sebuah poster film berjudul "The Game Changers (2018)". Posternya keren, cuma gambar tangan berotot dengan nadi berwarna hijau. Saya kira itu adalah film action, kemudian mencoba menonton film tersebut di waktu senggang. The Game Changers adalah film dokumenter yang kurang lebih menceritakan tentang apa itu plant-based diet. Film yang cukup menarik karena dibawakan dengan alur cerita yang sangat runtut, dan juga berdasarkan sebuah fakta ilmiah. Beberapa momen saya bahkan merasa heran terhadap penyampaian fakta ilmiah yang selama ini saya tidak ketahui,  atau juga beberapa anggapan yang telah terbentuk di masyarakat tentang makanan banyak dibantah lewat bukti ilmiah yang disampaikan di film ini. Saya banyak menonton film, tapi baru kali ini ada sebuah efek yang dasyat yang membuat saya ingin mengubah pola hidup mengikuti plant-based diet setelah menonton The Game Changers. Kalau anda penasaran, silahkan tonton filmnya, ada di Netflix kok.




Jadi apa itu plant-based diet? 
Plant-based diet adalah sebuah kebiasaan makan dengan hanya mengkonsumsi makanan yang berasal dari nabati/ tumbuhan. Dengan kata lain tidak mengkonsumsi makanan yang berasal dari hewan, seperti daging, susu dan bahkan produk turunan susu (keju, yogurt, dll). 

Sejauh ini, saya telah mencoba menerapkan plant-based diet selama 2 bulan dan masih berjalan. Awalnya saya hanya berencana untuk mencoba selama 1 bulan, tapi karena memiliki dampak yang bagus, saya meneruskan pola makan ini hingga sekarang (2 bulan sejak tulisan ini dibuat).

Apa saja dampak yang dirasakan selama menjalani plant-based diet?
Well, bagi setiap orang mungkin akan berbeda, saya disini hanya menceritakan apa yang saya alami sejauh ini. Pertama, saya kira dengan tidak mengkonsumsi makanan hewani saya akan menjadi lemas, tapi ternyata tidak. Sama sekali tidak seperti yang saya bayangkan. Saya masih bisa beraktivitas seperti biasanya, bahkan kali ini bisa lebih panjang. Hal paling besar yang saya rasakan adalah mudahnya tidur ketika malam. Biasanya saya tidur diatas jam 12 malam, namun entah mengapa saya menjadi mudah mengatur jam tidur setelah menjalani program ini. Bangun tidur pun tidak sesulit dulu, saya bisa bangun pagi dengan mudah dan langsung beraktifitas (tanpa tidur lagi). 

Kedua, pencernaan saya menjadi sangat lancar dan jarang sekali mengalami sakit perut. Ada pepatah mengatakan "bagaimana kamu di hari ini adalah tergantung dengan lancar tidaknya berak di pagi hari". Saya bisa membenarkan hal tersebut karena bagi saya, buang air besar di pagi hari adalah melepaskan sebagian beban agar bisa lebih fokus menjalani hari. Selama ini, saya selalu mengalami masalah sakit perut, paling tidak 2 kali dalam seminggu. Saya sangat takjub karena selama 2 bulan ini tidak sekalipun menghadapi masalah sakit perut. Ini menjadi salah satu poin penting kenapa saya berniat melanjutkan program plant-based diet ini.

Ketiga, saya menjadi lebih bisa mengendalikan emosi. Emosi yang saya maksud tidak hanya marah, tetapi juga perasaan sedih, galau, bahkan senang. Biasanya saya selalu reaktif menanggapi sebuah kejadian hidup yang saya alami. Hal tersebut membuat saya sering terjebak dalam posisi tertekan. Kini saya bisa lebih mengendalikan emosi-emosi tersebut, juga membuat saya lebih tenang menghadapinya.

Keempat, uang pengeluaran makan berkurang cukup signifikan. Ini tentu bukan dampak yang badan saya alami, tapi sebagai anak kos tentu lah ini sebuah berita bahagia. Menjadi seorang yang hanya makan makanan nabati di Indonesia adalah hal yang cukup mudah. Tidak susah bagi saya untuk mencari warung makan yang menyediakan aneka sayur, dan harganya juga sangat murah. Belakangan saya juga belanja sayuran setiap hari dan masak makanan sendiri. Uang yang saya anggarkan untuk makan mungkin sekitar 85%, setelah plant-based diet, pengeluaran tersebut berkurang mungkin sekitar 15-20%, cukup lumayan.

Kelima, berat badan saya turun meskipun tidak berolahraga secara rutin. Sebenarnya saya sama sekali tidak menjadikan plant-based diet sebagai alat untuk menurunkan berat badan. Selama 2 bulan ini berat badan turun sekitar 5 kg (tanpa olahraga). Bayangkan jika plant-based diet dikombinasikan dengan olahraga rutin, mungkin bakal dapat menurunkan berat badan secara signifikan.

Itulah bebarapa hal yang ingin saya bagikan selama menjalani program plant-based diet. Sejauh ini saya merasa nyaman menjalani program ini meskipun terkadang saya juga masih mengkonsumsi makanan berbahan telur / susu (lebih banyak sih karena lupa atau tidak sengaja). Saya tidak pernah ambil pusing tentang hal tersebut, dibawa enjoy aja. Kedepannya mungkin saya ingin berolahraga untuk dapat melihat hasil yang lebih baik. 

Anda bisa percaya ataupun tidak dengan tulisan yang saya buat ini. Silahkan buktikan sendiri, terkadang dengan mencoba hal secara langsung bisa membuka fikiran kita terhadap sesuatu. 



Rabu, 14 Juli 2021

Perihal makan
gambar hanya sebagai penyedap, ini salah satu makanan enak yang pernah saya makan


Saya tidak habis fikir, ada orang yang membuat sebuah posting menyalahkan sebuah platform jasa antar makanan online. Kronologinya kurang lebih seperti ini (berdasarkan yang saya tangkap dari video di twitter): Beliau ini pesan sebuah makanan di salah satu aplikasi ojek online, kemudian makanan yang dipesan sampai dan langsung disantap. Ketika makanan setengah habis, istrinya bertanya tentang makanan apa itu, kemudian digoogling itu makanan dan ternyata itu adalah Babi. 

Yang menjadi permasalahan adalah:
1. Video itu memancing perhatian warganet karena si beliau ini terkesan menyalahkan platform dan penjual makanan tersebut. 
2. Selain itu, jika saja beliau ini mengklik "see details" yang ada pada platform tersebut, pastilah keluar semua tuh, jenis olahan apa tempat makan itu. Sebuah kesalahan yang sangat bisa diantisipasi di awal, bahkan enggak perlu sampe googling.

Bagi saya, mengetahui makanan yang akan kita santap adalah sebuah keharusan (apapun kondisinya, meskipun lapar setengah mati ya). Kesalahan semacam ini jika terjadi pada saya, akan membuat saya sangat malu dan tidak akan membuat video demikian. Bagaimana tidak, itu seperti mengunggah kebodohan sendiri di muka umum (tanpa ada unsur komedi sama sekali). 


Mungkin maksud bapak yang satu ini baik, untuk memberi masukan kepada platform dan penjual makanan tersebut agar diberi label non-halal. Namun hal itu sebenarnya juga bisa diinformasikan dengan cara yang lebih elegan, bukan seperti ini:
 

Jadi kesimpulan dari kejadian ini adalah:
Makan adalah salah satu kegiatan primer manusia. "What Your Eating Habits Say About Your Personality". Kalau orangnya pemikir, pasti selalu ingin tau makanan apa yang bakal masuk ke mulutnya.
Jangan membuat diri terlihat bodoh dengan menyalahkan orang lain atas kesalahan konyol diri sendiri.