Agustyar

Sabtu, 07 November 2020

Quarter Life Crisis


Ada bayak hal yang membuat kita secara otomatis mengaktifkan mode over-thingking. Sebuah mode dimana kita berfikir akan sesuatu yang jauh didepan dan belum terjadi, maupun sesuatu yang jauh dibelakang yang akhirnya menjadi penyesalan kita. Biasanya output dari mode ini adalah perasaan tertekan, tidak berguna, dan sejenisnya. Salahkah jika kita berada di mode over-thingking? kalau menurut saya sih enggak, toh ini normal dan wajar karena semua orang pasti pernah berada di situasi tersebut. Saya juga, hingga sekarang. Apalagi dengan kondisi pandemi kayak gini, tambah subur.

Salah satu hal yang membuat saya masuk mode over-thingking saat ini adalah sesuatu yang sering kita sebut sebagai "Quarter Life Crisis". Nama yang cukup keren, tapi dampak yang ditimbulkan enggak keren sama sekali. Dikutip dari wikipediaQuarter Life Crisis atau krisis usia seperempat abad merupakan istilah psikologi yang merujuk pada keadaan emosional yang umumnya dialami oleh orang-orang berusia 20 hingga 30 tahun seperti kekhawatiran, keraguan terhadap kemampuan diri, dan kebingungan menentukan arah hidup yang umumnya dialami oleh orang-orang berusia 20 hingga 30 tahun. 

gimana? gak keren kan?
Sampai saat ini pun saya belum menemukan cara untuk melewati fase ini selain mengikuti kemanapun arusnya mengalir. Maksudnya ya cuma bisa menjalani saja, gak bisa nawar. 

Pemicu "Quarter Life Crisis" setiap orang juga berbeda, mulai dari hal yang remeh hingga hal esensial. Korban dari fase ini juga enggak pandang bulu, siapapun bisa. 

"Kok dia sudah nikah, sudah punya anak, sudah punya rumah, sudah punya pekerjaan tetap nan enak? kok aku masih gini-gini aja, ketinggalan jauh banget, apa aku bisa sampai tahap mereka? apa yang aku lakuin sekarang bakal ada happy endingnya?"

Begitulah kurang lebih si Quarter Life Crisis menggerogoti diri kita sedikit demi sedikit. Membuat kita terus terpaku memikirkan hal-hal tersebut sehingga waktu kita terbuang tanpa kita sadari. Membuat semangat menjadi loyo karena terus menerus memberi makan diri dengan sebuah pesimisme. dan tanpa kita sadari, kita justru membuat diri kita sendiri berada semakin jauh, semakin buruk dari yang selalu kita fikirkan, ini yang mengerikan. Saya pernah mendengar sebuah perkataan yang isinya kurang lebih seperti ini:

"Tidak semua yang Kita inginkan akan terwujud dan tidak semua yang Kita takutkan akan terjadi"

Intinya, jangan terlalu merasa bahwa kita harus mendapatkan hal yang kita inginkan. Karena ya itu,  enggak semua yang kita inginkan bakal terwujud. Jadi ya sebisa mungkin meminimalisir agar kita tidak jatuh terlalu dalam ketika gagal. Memang, perasaan ambisius untuk mendapatkan sesuatu itu baik untuk menambah semangat dan daya juang, akan tetapi kita mesti manage supaya tidak terlalu over hingga berada di luar kontrol. 

Kemudian perasaan takut akan segala hal yang belum terjadi, itu juga kurang lebih sama busuknya. Kadang-kadang bikin kita enggak ngotak, membayangkan kegagalan yang teramat besar, padahal memulai juga belum, apalagi kejadian. Biasanya yang kayak gini karena kita terlalu mendramatisir khayalan kita aja. Sadar atau tidak sadar perilaku semacam ini sering kita lakukan. Ketakutan berlebihan itu enggak baik (semua hal yang berlebihan memang enggak baik juga sih). Hingga saat ini saya masih belajar gimana caranya memanage rasa takut, susah memang, tapi harus diusahakan dan dibiasakan. Tidak semua yang Kita takutkan akan terjadi, kalaupun kejadian ya sudah. Harus kita terima kan, mau enggak mau, enak enggak enak. Jadi, daripada takut berlebihan,lebih baik kita siapkan diri untuk kemungkinan terburuk yang mungkin akan terjadi. 

Di usia kita yang memasuki krisis ini, masih banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Baik ? Buruk ? atau keduanya. Berfikir mendahului hal yang belum terjadi adalah sebuah bentuk kesombongan terhadap Tuhan. Apapun itu, mari kita nikmati saja hidup kita. Syukuri aja dulu apa yang kita punya, yang belum kita punya alangkah lebih baik hanya menjadi pengingat agar kita tidak sombong. 

Oh ya, bacot saya ini bukan untuk menggurui siapapun yang membaca tulisan ini. Murni tulisan ini dibuat sebagai pengingat pribadi, kalau bisa jadi pengingat bersama saya sangat senang. 


Minggu, 18 Oktober 2020

Being a Muslim in China





September 10 2019 was the first time I landed in Qingdao, China. Without expectation, I just want to do my best to live here. I don’t know how’s live here because I never go to overseas before. As I knew, China is one of the competitive countries with hard worker people. 


In China, I lived at the international dormitory (inside campus) located at Yushan Road, Shinan District, Qingdao, Shandong province. There are many international students from various countries like Thailand, Egypt, Pakistan, Bangladesh, Malaysia, Myanmar, India, and Indonesia as well. This dormitory dominated by Asian countries. 


How are lives as a Muslim in China?


Okay, let me breakdown into several aspects related to Muslims.


1. Food  

When we talk about food, it’s always related to culture and habit. In China, We can found rice easily. As an Indonesian, it’s a positive point because We eat rice every day. How about halal food? Fortunately, our campus provides halal food on the 3rd floor of the restaurant. There are many halal foods at cheap prices. How’s taste? For me, the taste is good enough. I have tried several kinds of food here. My favorite menu is fried chicken + eggplant + rice. I never bored eating that food. The restaurant opens every day at 11.00 AM and 17.00 AM. Don’t come late otherwise, you will not get any food. Anyway, we can eat outside the campus and find a “Lanzhou Restaurant” but the price is not cheap compared to the price inside the campus. 

Halal Restaurant in my Campus





2. Mosque

The important thing when you come to another country is to find where the mosque located. Fortunately, our city has a mosque located in Fushan which is 1 hour from my dormitory by bus. Every Friday and my Muslim friend go to the mosque by Bus (No. 307). For one trip by bus, we pay 1 yuan (IDR 2000). In China, we use transportation card or digital payment like WeChat pay and Alipay. Everything is cashless, amazing. Even the mosque provides payment barcodes if we want to donate. Another interesting thing is we can found a halal market and restaurant beside the mosque. In this market, we can buy instant food, snack, basic food ingredients, and many more. We also can eat meat here. Everything is halal. 

Qingdao Mosque

at the backside of Qingdao Mosque 



3. Social

As far as I live in China, I can do any activities related to Islam. Every people is busy with their business. The Muslim people in Qingdao city is also friendly with Muslims from overseas. Everyone has the freedom to do activities as long as they are still within the normal corridor and do not interfere. 






Based on my experience, as a Muslim who lives in China, It’s convenient enough to be here. We can find halal food easily. We also can gather with another Muslim from several countries and from China as well. I don’t have any problems here. The most important thing is:

“give your respect to others, then you will be respected”






Sabtu, 25 Juli 2020

Go away
I realized that no one can stay in our life forever. Everyone just docked for a while. The truth of life is about how long we can be together, and how after that?. Separation is an absolute thing. We can't avoid that. Come and go is a normal thing as well. People come with happiness, then go by leaving sadness. After that, everything will run normally, even though the heart still feels the hurt. 


As time goes by, the wound in the heart will heal by itself. That sad moment was not forgotten, but the pain did not feel like the beginning. 

Every time when we are alone, the sadness maybe come back. It happens because of no one in our hearts. Abandoned or left? both of them have the same feeling, hurt, yeah only hurt. when that situation happens, just go away. Go away from your reality, go away from your social media, go away from your routine. You just need the time to heal up. 

 
I went far from home not to heal up

Jumat, 12 Juni 2020

Me against myself and try to be consistent


Sometimes I thought I am a useless person, that's why I am lazy to do productive things. The "useless" mindset is what makes me often fail to start good habits consistently. Sometimes I also blame the situation where I was already unproductive and made me more difficult to move. Hundreds of times I tried to change to the new habits, but in the end, I failed again.

Today, June 12, 2020, I learned a valuable lesson from watching a video on Youtube. A video that slapped me for allowing myself to be in this state. Continue to be in the comfort zone, always giving up through the process of changing and always blaming circumstances. I hate what He said in the video because that is true. The hard slap brought me to stand back again at the start point for the umpteenth time. 

Through this post, I am Tiar, 23 years old, will try as much as possible to start new things that make me more productive and change the mindset of "useless". I do not know this effort will be worked or will be to the list of my failures. I will try to start slowly until finally, it can be consistent. If I fail and I "GIVE UP", I deserve a slap physically and mentally. In the end, what I do is to counter myself and try to be consistent. good luck to me.